Berita

Problematika Pembangunan Ruang Terbuka Hijau

Apr

22

Problematika Pembangunan Ruang Terbuka Hijau

Problematika Pembangunan Ruang Terbuka Hijau


Ketentuan khusus untuk menyediakan fasilitas ruang terbuka hijau (RTH) bagi bangunan gedung negara diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa salah satu prasarana dan sarana bangunan yang harus ada pada bangunan gedung negara adalah Ruang Terbuka Hijau.


Untuk selanjutnya penataan RTH tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 650-658 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di wilayah Perkotaan. Di wilayah kabupaten/kota penanganan fasilitas ruang terbuka hijau guna terwujudnya lingkungan kota akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah tersendiri yang merupakan program faslitas lingkungan antara lain pengembangan jalur hijau, taman dan program konservasi sungai/ saluran.


Kawasan perkotaan di Indonesia cenderung mengalami permasalahan yang tipikal, yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk terutama akibat arus urbanisasi sehingga menyebabkan pengelolaan ruang kota makin berat. Pemfungsian ruang terbuka hijau tampaknya masih mempunyai makna pelengkap/penyempurna bagi perkotaan, sehingga pemanfaatan lahan untuk ruang terbuka hijau dianggap sebagai penambah estetika lingkungan. Lebih parah lagi ruang terbuka hijau dianggap sebagai cadangan untuk penggunaan lahan di masa mendatang.


Hal ini mengakibatkan munculnya paradigma bahwa setiap saat ruang terbuka hijau dapat diganti dengan penggunaan lain yang dirasakan lebih menguntungkan secara ekonomis. Lingkungan perkotaan hanya berkembang secara ekonomi, namun menurun secara ekologi. Padahal keseimbangan lingkungan perkotaan secara ekologi sama pentingnya dengan perkembangan nilai ekonomi kawasan perkotaan. Menurunnya kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik tersebut, baik berupa ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau, telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti seringnya terjadi banjir di perkotaan, tingginya polusi udara dan meningkatnya kerawanan sosial (kriminalitas, tawuran antar warga), serta menurunnya produktivitas masyarakat akibat stress dan yang jelas berdampak kepada pengembangan wilayah kota tersebut.