Artikel

Bulu Si Beringin Pencekik

Nov

13

Bulu Si Beringin Pencekik

Bulu Si Beringin Pencekik

Secara lokal tanaman ini dikenal dengan beberapa nama antara lain:  beringin pencekik, ara pencekik,  Masyarakat lokal Kalimantan menyebut tanaman ini dengan sebutan bulu atau ara susu,  masyarakat  Sunda menyebutnya dengan nama  kiara bodas atau kiara oneng sedangkan orang Jawa menyebutnya grasak dan bulu.

Secara taksonomi tanaman bulu mempunyai susunan sebagai berikut:

Kingdom: Plantae, 

Divisi              : Magnoliophyta, 

Kelas               : Magnoliopsida, 

Ordo                : Rosales, 

Famili              : Moraceae; 

Genus              : Ficus, 

Species            : Ficus annulata

dengan sinonim nama ilmiahnya yaitu Ficus balabacensisFicus flavescensFicus validaUrostigma annulatum, dan Urostigma flavescens.

 

Bulu berhabitus pohon dengan sistem percabangan yang simpodial, tinggi pohon dapat mencapai ukuran yang tinggi seperti yang ditemukan di Desa Giri Sekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul yang terletak di tepi jalan yang menuju ke kantor kecamatan Panggang. Pohon bulu ditempat ini mempunyai ketinggian kurang lebih 30 mdengan diameter batang kurang lebih 3 m.

Batang tanaman berbentuk silindris, memiliki warna coklat. Batang tanaman bulu secara umum terdiri dari kulit dan kayu yang dalam istilah biologi disebut empulur. Kulit batang bertekstur kasar,  pada bagian kulit mengandung getah yang banyak, getah  berwarna putih susu, dari sifat ini tanaman bulu juga disebut dengan ara susu oleh masyarakat kalimantan. Bagian kayu berwarna putih dan berlendir pada bagian permukaan kayunya. Ada satu hal yang menarik dari dari tanaman bulu ini yaitu batangnya dapat menempel pada tanaman lain dan membelit tanaman inang yang ditumpanginya, bahkan pada perkembanganya lama kelamaan tanaman bulu ini dapat mencekik tanaman inangnya hingga mati merana. Sifat inilah yang menyebabkan tanaman ini juga disebut beringin pencekik.

Akar berupa akar tunggang, berwarna coklat. Bagian akar terdiri dari tudung akar, jaringan epidermis, rambut akar, korteks, dan jaringan pengangkut, yang terdiri dari  xylem,  floem dan empulur. Xilem dan floem  terletak di dalam empulur. Struktur anatomi akar mempunyai kemiripan dengan struktur anatomi batangnya. Perbedaanya adalah pada akar terdapat rambut akar. Rambut pada akar ini merupakan bagian dari modifikasi epidermis akar yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi dari tanah.  

Daun bertipe daun tunggal, duduk daun menyebar pada seluruh batang. Helaian daun berbentuk jorong, berwarna hijau.Pada bagian bawah helaian daun berwarna hijau keputih-putihan. Helaian daun memiliki ukuran panjang 12 cm hingga 25 cm sedangkan lebarnya 5 cm hingga 10 cm.  Tulang daun menyirip, permukaan daun rata, tepi daun rata, ujung meruncing.

Bunga bertipe majemuk, tersusun  dalam malai yang terletak pada ujung ranting,  bagian bunga terdiri dari mahkota yang berwarna kuning, tangkai bunga, kelopak bunga, benang sari dan putik. Kelopak bunga berbentuk jorong dan bercangap, mahkota bunga berwarna kuning terang dan berbenuk bulat, bunga bersifa hermaprodit.

Buah bertipe buah buni. Berbentuk bulat dan berwarna hijau pada saat muda, setelah tua berwarna kuning dan setelah masak berwarna merah jambu. Buah memiliki ukuran diameter antara 2 cm hingga 4 cm. Biji berwarna coklat, berbentuk bulat, terletak menggerombol di dalam buah.

Habitat dan Persebaran Alami

Habitat alami bulu di hutan tropis dengan ketinggian hingga 600 meter dari permukaan laut, juga sering ditemukan di hutan dekat aliran sungai, lereng bukit serta daerah pegunungan. Pohon ini dapat tumbuh baik di tanah berpasir maupun di daerah tanah liat. Persebaran tanaman ini meliputi daerah Indo ChinaSemenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi

Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tanaman bulu sudah mulai langka, di wilayah ini tanaman ini masih dapat dijumpai di kawasan sekitar sungai, sumber air, lereng bukit dan tempat lainya yang dikeramatkan seperti yang ditemukan di wilayah Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Pohon bulu yang ditemukan di sini berukuran besar dengan ketinggian kurang lebih 30 m dengan diameter batang kurang lebih 3 m.

Potensi Pemanfaatan

 Daun dari tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengatasi demam sedangkan akarnya dapat digunakan untuk obat sakit lepra. Cara membuat ramuan obat dari daun beringin pencekik ini adalah dengan merebus 15 gram daun menggunakan air kurang lebih 15 menit. Air rebusan daun tersebut kemudian diminumkan pada penderita demam. Manfaat lainya yang cukup potensial adalah manfaat secara ekologis yaitu sangat potensial untuk konservasi sumber air, mencegah erosi dan penguatan daya dukung habitat satwa terutama untuk sumber pakan dan penguatan iklim mikro.


Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (Dari Berbagai Sumber)