Artikel

Jenis-Jenis Ular yang Sering Muncul di Pemukiman - Bagian 3

Jun

18

Jenis-Jenis Ular yang Sering Muncul di Pemukiman - Bagian 3

Jenis-Jenis Ular yang Sering Muncul di Pemukiman - Bagian 3

3. Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)

 

        Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)

Merupakan sejenis ular keluarga beludak berbisa yang amat agresif. Ular ini termasuk ke dalam anak suku Crotalinae (bandotan berdekik). Ular ini dikenal dengan nama lokal antara lain: bandotan bedor, oray lemah, ular gibug (Sunda); ular edor (Karimunjawa), dan lain-lain. Dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Malayan pit viper.

 

Klasifikasi Taksonomi

Kingdom          : Animalia

Filum               : Chordata

Subfilum          : Vertebrata

Ordo                : Reptilia

Subordo          : Serpentes

Famili              : Viperidae

Subfamili         : Crotalinae

Genus             : Calloselasma

Spesies           : Calloselasma rhodostoma (Kuhl, 1824)

 

Ciri-Ciri Morfologi

        Ukuran ular tanah tidak terlalu besar, cenderung gemuk, dan agak pendek. Panjang rata-rata 76 cm, yang betina lebih panjang dari yang jantan. Namun kadang-kadang ditemukan pula yang panjangnya mencapai 91 cm.

Punggung berwarna cokelat agak kemerahan atau kemerah jambuan. Sepanjang bagian tengah punggung dihiasi oleh 25-30 pasang corak segitiga besar atau coklat gelap, berseling dengan warna terang kekuningan atau keputihan; dan puncak segitiga-segitiga itu bertemu atau berseling di garis vertebral. Sisi samping (lateral) berwarna lebih pucat atau lebih buram, dengan bercak-bercak cokelat gelap besar terletak beraturan hingga ke dekat anus. Sisi bawah tubuh putih kemerah jambuan, bebercak cokelat gelap dan terang. Keseluruhan warna punggung itu memberi kesan penyamaran yang kuat manakala ular berada di antara seresah kering.

Kepala menyegitiga dengan moncong meruncing; berwarna cokelat gelap, dengan sepasang pita keputihan di atas mata dan pola keputihan serupa anak panah di tengkuk. Sisi kepala cokelat gelap dan bibir berwarna putih abu-abu jambon, batas kedua warn aitu berbiku-biku serupa renda. Kulit dinding mulut putih kebiruan.

        Sisik ventral 148-166, anal tunggal (tak terbagi). Subkaudal 35-52. Sisik dorsal dalam 21 (jarang 19) deret. Sisik labial atas 7-9, tidak ada yang menyentuh mata. Tidak sebagaimana lazimnya bandotan (viper) berdekik, sisi atas kepala ular tanah tertutupi oleh perisai-perisai yang simetris. Ciri ini bersifat khas dan taka da duanya di antara kelompok bandotan berdekik Asia.

 

Ekologi dan Kebiasaan

        Ular tanah merupakan predator penyergap. Biasanya tampak pasif melingkar di atas tanah atau seresah menunggu mangsanya lewat di dekatnya. Satwa ini juga jarang bergerak. 

Ular ini menghuni hutan belukar, semak-semak atau lahan pertanian yang lembab dan kurang terurus. Sering pula ditemukan di sekitar pemukiman.

        Satwa ini memangsa hewan pengerat kecil, burung, kadal dan kodok. Ular tanah terutama aktif pada malam hari (nocturnal). Ular ini berkembangbiak dengan bertelur (ovipar). Telur-telurnya dijaga ular betina sampai menetas.

Pola warna dan perilakunya memberikan kamuflase yang baik, sehingga ular tanah tidak mudah terlihat dan sering terlewat perhatian. Namun, ular tanah ini sebenarnya sangat agresif dan dapat menyerang dengan cepat jika merasa terganggu. Ular ini memipihkan badannya di saat merasa terancam, membentuk leher seperti huruf S dan siap menyerang.

 

Gigitan dan Bisa

        Gigitan ular tanah sangat menyakitkan, menimbulkan pembengkakan dan kadang-kadang terjadi kematian jaringan (gangrene, nekrosis). Meskipun gigitanfatal jarang terjadi, namun banyak korbannya yang kemudian mengalami kerusakan atau disfungsi anggota badan, bahkan sampai harus diamputasi karena ketiadaan serum anti bisa atau keterlambatan pengobatan.

Diketahui, saat ini Indonesia baru memiliki serum anti bisa ular untuk tiga jenis ular, yaitu kobra Jawa (Naja sputatrix), ular welang (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Hal ini menunjukkan bahwa kasus gigitan ular tanah termasuk cukup tinggi di Indonesia.


4. Ular Welang (Bungarus fasciatus)

 

Bersambung ke bagian berikutnya…

 

Keterangan gambar cover: Wibowo Djatmiko (wie146) dari Wikimedia Commons

(Dari berbagai sumber)