Artikel

Kelelawar, Spesies Penting Ekosistem Karst

May

17

Kelelawar, Spesies Penting Ekosistem Karst

Kelelawar, Spesies Penting Ekosistem Karst

Meskipun dianggap sebagai salah satu satwa yang paling banyak menularkan penyakit kepada manusia, pada kenyataannya kelelawar memiliki banyak peran penting bagi ekosistem. Kelelawar dapat ditemukan pada berbagai ekosistem darat bervegetasi. Manusia pada umumnya mengenali kelelawar sebagai makhluk gua. Spesies ini adalah adalah spesies penting bagi ekosistem karst.

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang bisa terbang. Di Indonesia terdapat dua sub-ordo kelelawar, yaitu:

1.     Megachiroptera, (kelelawar pemakan buah, daun, nectar dan serbuk sari), dengan 1 famili, 41 genus dan 163 spesies;

2.     Microchiroptera, (sebagian besar pemakan serangga, hanya sedikit yang merupakan pemakan buah dan nectar), dengan 17 famili, 147 genus dan 814 spesies. Kelelawar dari famili Microchiroptera menghuni gua-gua untuk tempat bertengger (roosting) pada siang hari. Beberapa contoh kelelawar Microchiroptera yaitu Rhinolopus canuti (kelelawar tapal kuda), Rhinolopus affinis dan Rhinolopus pusillus. Ketiga spesies kelelawar tersebut dapat ditemukan di kawasan karst Gunung Sewu, Kabupaten Gunungkidul.

Beberapa peran kelelawar bagi ekosistem karst diantaranya:

1.     Sebagai pengendali hama pertanian, terutama kelelawar pemakan serangga;

2.     Sebagai predator alami/pengendali hama penyakit, misalnya nyamuk;

3.     Sebagai agen penyerbukan dan penyebar biji;

4.     Membantu penyuburan tanah. Guano atau kotoran kelelawar merupakan salah satu bahan pembuat pupuk terbaik di dunia.


Rhinolopus canuti (Thomas & Wroughton, 1909) atau kelelawar tapal kuda

Merupakan kelelawar endemic Indonesia. Di Indoensia hanya ditemukan di Pulau Jawa dan Bali. Spesies ini baru dideskripsikan sebagai spesies baru pada tahun 1909 oleh Oldifield Thomas dan Robert Charles Wroughton. Penamaan canuti adalah untuk menghormati seorang ahli mamalia Denmark Knud Andersen. 

Deskripsi: Tengkorak Rhinolopus canuti memiliki proyeksi rostral. Panjang kepala dan tubuh sekitar 65 mm. Ekor 22 mm. Telinga 24 mm. Antara sella dan posterior lancet memiliki penghubung yang sangat sempit.

Satwa ini merupakan satwa nocturnal (aktif pada malam hari), pemakan serangga, pada siang hari suka bertengger (roosting) di gua-gua pada siang hari. Hidup secara berkoloni.

Menurut IUCN Redlist, saat ini Rhinolopus canuti berstatus Rentan (Vulnerable). Dianggap memenuhi kriteria Rentan tersebut karena saat ini areal jelajahnya kurang dari 20.000 km persegi, habitatnya terfragmentasi (terpecah-pecah), tergantung pada hutan dan kehilangan habitatnya. Diperkirakan populasi kelelawar jenis ini menurun terus.

 

Rhinolopus affinis (Horsfield,1823) atau kelelawar tapal kuda ukuran sedang

Didefinisikan sebagai spesies baru pada tahun 1823 oleh Thomas Horsfield, seorang naturalist berkebangsaan Amerika. Konon, holotype atau sampel organisme yang digunakan pada saat itu diambil di Pulau Jawa.

Rhinolopus affinis memiliki Sembilan sub-spesies, diantaranya, R. a. affinis, R. a. andamanensis, R. a. hainanus, R. a. himalayanus, R. a. macrurus, R. a. nesites, R. a. princes, R. a. superans dan R. a. tener.

Deskripsi: Panjang tubuh total sekitar 58-63 mm. Panjang lengan bawah sekitar 46-56 mm. Berat individu sekitar 12-15 gr.

Kelelawar tapal kuda ukuran sedang ini terdistribusi luas di Asia, mulai dari India, China hingga Asia Tenggara. Wilayah paling selatan yang menjadi rentang habitatnya adalah kepulauan Sunda Kecil dan Pulau Jawa. Satwa ini dapat ditemukan pada ketinggian 290-2000 m dpl.

Menurut IUCN Redlist, Rhinolopus affinis berstatus Least Concern.


Keterangan gambar: Kelelawar oleh Pixabay

 

Oleh: Seksi KSDA – DLHK DIY