Artikel

Refleksi Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati Tahun 2021: Kita Bagian dari Solusi

May

22

Refleksi Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati Tahun 2021: Kita Bagian dari Solusi

Refleksi Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati Tahun 2021: Kita Bagian dari Solusi

Peringatan Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati diperingati setiap tanggal 22 Mei. Pada awalnya, tahun 1993, Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati ini diperingati pada tanggal 29 Desember. Kemudian, karena banyak negara kesulitan untuk merencanakan dan menyusun aksi karena banyaknya hari libur di sekitar tanggal-tanggal tersebut, akhirnya peringatan dipindah menjadi tanggal 22 Mei. 

Pada peringatan tahun 2021 ini, tema besar yang diusung adalah, “We are part of the solution” atau “Kita adalah bagian dari solusi”. Sudahkah kita benar-benar menjadi bagian dari solusi bagi permasalahan-permasalahan keanekaragaman hayati di sekitar kita dan di dunia?

Planet bumi saat ini sedang sakit. Saat ini, masyarakat dunia sedang dihadapkan dengan pandemi coronavirus dimana menurut penelitian, virus ini merupakan virus zoonosis. Zoonosis adalah penyakit yang ditularkan oleh hewan kepada manusia. Menurut un.org, hal ini bisa terjadi salah satunya adalah karena ada yang hilang dalam jaring-jaring biodiversitas. 

Interaksi manusia dengan alam sudah seringkali melebihi batas. Kita kehilangan sumber daya alam lebih cepat daripada kecepatan alam memperbaharuinya. Populasi ikan di dunia telah menurun lebih dari 50% dalam empat dekade terakhir. Dilansir dari Mongabay, laju deforestasi hutan primer dan sekunder naik dari rata-rata 17,1 juta hektar per tahun pada tahun 2000-an menjadi 23,1 juta hektar pada tahun 2010-an. Dengan laju kepunahan sebesar itu, bisakah kita bayangkan berapa yang hilang dari jaring-jaring biodiversitas?

Adanya pandemi Covid-19 telah mengingatkan kita akan hubungan erat manusia dengan alam. Meskipun dengan kemajuan akal pikirnya manusia berhasil mengembangkan berbagai teknologi untuk mendukung kehidupannya, pada dasarnya manusia tetaplah bergantung pada alam. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dari alam, pada akhirnya alam membalas. Bukan berarti bahwa alam telah berlaku jahat kepada manusia. Yang dilakukan oleh alam hanyalah sebuah upaya untuk menjaga keseimbangan. Jika kita melihat sejarah umat manusia di masa lalu, sebenarnya telah berkali-kali manusia mengalami pandemi. Seperti black death pada sekitar tahun 1300-an sampai dengan wabah flu Spanyol pada awal 1900-an. Sebuah pandemi yang berhasil dilewati dengan baik seperti sebuah kesempatan baru untuk pulih dan mereset kehidupan menjadi lebih baik.

Pandemi Covid-19, mau tidak mau telah membuat kita lebih banyak tinggal di rumah dan membatasi interaksi dengan alam, tidak seperti sebelum masa pandemi. Jika berkaca dari kejadian pasca ledakan Chernobyl 1986 dan Fukushima 2011, berkurangnya interaksi manusia dengan alam telah menyebabkan alam pulih dengan lebih baik dan lebih cepat. Mungkinkah yang sama dapat terjadi pasca pandemic Covid-19 suatu hari nanti?

Yang jelas, kita perlu berbuat sesuatu untuk memulihkan alam yang sakit, tidak sekedar duduk dalam diam dan menunggu keajaiban alam pulih dengan sendirinya. Upaya-upaya restorasi terhadap alam dan lingkungan yang rusak perlu dilakukan. Segala seuatu yang masih ada perlu dilindungi agar tidak ikut menjadi rusak dan punah. Kita juga perlu mempertahankan keseimbangan hubungan kita dengan planet bumi. 

 

Ruwatan dalam Masyarakat Jawa: Upaya Menyeimbangkan Alam Semesta

Masyarakat Jawa mengenal istilah jagad alit dan jagad ageng atau alam kecil dan alam besar. Alam kecil adalah mikrokosmos, yaitu alam dalam diri manusia itu sendiri. Sedangkan alam besar adalah makrokosmos atau alam di luar manusia. Antara alam kecil dan alam besar tidak selalu seimbang, tidak selalu stabil. Apabila terjadi ketidakseimbangan, bisa jadi adalah akibat ulah dari alam kecil (ulah manusia) ataupun sebaliknya (bencana alam). Oleh karena itu, leluhur masyarakat Jawa selalu berusaha menjaga keseimbangan jagad raya atau alam semesta. Salah satunya dengan tradisi ruwatan. Bagaimanakah yang disebut ruwatan itu?

Ruwatan adalah salah satu upacara adat Jawa yang berasal dari cerita wayang Bathara Kala. Dikisahkan, Bathara Kala adalah salah satu dewa yang memiliki kegemaran memangsa manusia. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, seseorang yang karena suatu peristiwa, dia terkena sukerta, maka dia akan menjadi mangsa Bathara Kala. Untuk membebaskan orang tersebut dari sukerta dan agar tidak menjadi mangsa Bathara Kala, maka diadakanlah ruwatan. Sebuah upacara ruwatan biasanya identik dengan sebuah pergelaran wayang kulit, namun sebenarnya maknanya lebih dari itu.




Gambar 1. Wayang Bathara Kala koleksi Tropenmuseum dari Wikimedia Commons


Mengapa dikatakan bahwa Bathara Kala akan memangsa orang yang berbuat sukerta? Sukerta dimaknai sebagai perbuatan yang kurang baik, meski secara etimologis sebenarnya memiliki makna kebalikannya. Perbuatan yang kurang baik asalnya dari dalam diri manusia sendiri yang bisa berupa sifat-sifat buruk seperti sombong, serakah, bodoh, jahat, iri hati, dengki, mau menang sendiri dan lain-lainnya.

Dalam konteks biodiversitas, pemangsaan Bathara Kala kepada manusia yang berbuat sukerta atau berbuat kurang baik dapat dicontohkan dengan berbagai bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya banjir dan longsor yang disebabkan oleh banyaknya illegal logging dan deforestasi. Bahkan interaksi manusia yang terlalu jauh merambah alam, salah satunya dengan kelelawar yang dianggap menjadi salah satu penyebab pandemi Covid-19 juga dapat dijadikan contoh.

Lantas, bagaimana relevansi ruwatan untuk menyeimbangkan alam semesta dapat mengusir wabah dan untuk menyembuhkan planet bumi yang sakit? Makna dari ruwatan sebenarnya upaya untuk membuang segala “sukerta” atau segala sifat kurang baik. Buanglah segala sifat serakah dalam penguasaan sumber daya alam. Buanglah segala sifat sombong yang membuat kita tidak menghargai alam. Buanglah segala kebodohan yang membuat kita lalai belajar.

Sebagaimana tema besar peringatan Hari Internasional untuk Keanekaragaman Hayati Tahun 2021, “Kita adalah bagian dari solusi”, memang sebenarnya masing-masing dari kita memiliki bagian untuk berperan. Berperan untuk menyeimbangkan jagad raya atau alam semesta. Ketika kita mengambil dari alam, sudahkah kita memberi gantinya kepada alam? Ketika kita memanen, sudahkah kita memupuk? Ketika kita menebang pohon, sudahkah kita menanam gantinya? Kita ingin menghalau Bathara Kala yang sekarang mewujud dalam Covid-19 itu kembali ke alamnya, tetapi ternyata alamnya sudah kita rusak. Lantas, bagimana dia harus kembali?

Bathara Kala pasti akan ada waktunya untuk pulang. Namun sebelum itu, sudahkah kita membuang segala sifat sombong, serakah, bodoh, jahat, iri, dengki dan segala sifat buruk lain dalam diri kita? Kita dapat menjadi bagian dari solusi. Paling tidak, dengan menjadi baik.


Oleh: Seksi KSDA - DLHK DIY