Artikel

Rusa Timor: Ikon Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 2020

Nov

05

Rusa Timor: Ikon Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 2020

Rusa Timor: Ikon Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 2020

Ikon satwa untuk peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 2020 ini adalah rusa Timor (Rusa timorensis). Rusa Timor merupakan salah satu jenis rusa yang dapat dijumpai di Indonesia, selain dari rusa Sambar (Cervus unicolor), rusa Bawean (Axis kuhlii), kijang kuning (Muntiacus atherodes), dan kijang (Muntiacus muntjak). Rusa-rusa tersebut tersebar luas di berbagai pulau besar dan kecil di Indonesia.

 

Taksonomi Rusa Timor

Kerajaan: Animalia

Filum     : Chordata

Kelas     : Mamalia

Ordo      : Artiodactyla

Famili    : Cervidae

Genus   : Rusa

Spesies : Rusa timorensis

 

Deskripsi

Tubuh rusa Timor berukuran kecil dengan berat badan rusa dewasa mencapai 60 -100 kg. Gambaran fisik rusa ini antara lain mempunyai tungkai pendek, ekor panjang, dahi cekung, gigi seri relatif lebih besar, dan rambut berwarna coklat kekuning-kuningan.

 

Bobot badan rusa betina dapat mencapai 100 kg. Tinggi bahu rusa betina dewasa mencapai 100 cm, sedangkan pada jantan mencapai 110 cm. Panjang badan dengan kepala kira-kira 120 – 130 cm, panjang ekor 10 – 30 cm. Jantan dewasa memiliki tanduk atau ranggah yang bercabang tiga dengan ujung-ujungnya yang runcing, kasar dan beralur memanjang dari pangkal hingga ke ujung ranggah. Panjang ranggah rata-rata 80 – 90 cm, tapi ada juga yang mencapai 111,5 cm.

 

Ekologi dan penyebaran

Rusa timor termasuk hewan yang mampu beradaptasi di dataran rendah hingga ketinggian 2.600 m di atas permukaan laut. Habitat alaminya di beberapa tipe vegetasi seperti savana dan vegetasi hutan. Sebagaimana herbivora pada umumnya, satwa ini menghabiskan waktunya berjam-jam untuk makan dan diselingi perjalanan-perjalanan pendek untuk beristirahat dan ke sumber air. Rusa timor merupakan salah satu penghuni tertua daratan Timor, kemudian menyebar ke sejumlah pulau terdekat, seperti Sumba, Rote Ndao, Flores, Alor, Maluku, Sulawesi, bahkan Papua, khususnya Merauke.

 

Perilaku umum

Rusa Timor makan pada pagi dan sore hari, sedangkan pada siang hari cenderung mencari perlindungan dari terik sinar matahari, beristirahat sambil memamah biak. Pada malam hari aktivitas makan juga berlangsung, tetapi tidak begitu aktif. Satwa ini menyukai daun yang lunak dan basah seperti bagian muda daun dari jenis legum (tumbuhan perdu yang berkeping ganda) seperti lamtoro, turi dan juga jenis rerumputan seperti mapu dan ilalang.

 

Rusa Timor mampu beradaptasi dengan baik sehingga mampu berkembang biak di luar habitat alaminya. Di alam maupun di penangkaran satwa ini dapat hidup selama 15 – 20 tahun dengan rata-rata masa hidup 17,5 tahun.

 

Rusa Timor pada umumnya hidup dalam kelompok antara 3 ekor sampai 20 ekor. Namun jika berada di padang penggembalaan terkadang dapat membentuk kelompok besar sampai jumlah 75 – 100 ekor. Dalam penangkaran, rusa jantan mampu hidup berdampingan dengan individu jantan lain atau individu betina. Hal ini mengubah perilaku aslinya yang bersifat soliter.

 

Konservasi 

Rusa Timor termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 106 tahun 2018. Berdasarkan kategori daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red list), sejak tahun 2008 rusa Timor termasuk kategori rentan (vulnerable). Sebelumnya pada tahun 1996, rusa Timor berstatus risiko rendah (lower risk). Perubahan status ini disebabkan total populasi asli rusa Timor di daerah penyebaran aslinya diperkirakan kurang dari 10.000 individu dewasa. Perkiraan penurunan sekurangnya 10% selama tiga generasi sebagai akibat hilangnya habitat dan perburuan (IUCN, 2015).

 

Rusa Timor biasanya diburu untuk pemenuhan pangan dan kesenangan atau hobi bagi manusia. Salah satu upaya untuk menjaga keberadaan rusa Timor yaitu dengan melakukan penangkaran untuk mengantisipasi kepunahan rusa baik secara ekstensif, semi intensif, maupun intensif.. Selain dengan penangkaran, penerapan teknologi perkembangbiakan seperti penyimpanan spermatozoa beku, inseminasi buatan, dan embrio transfer memungkinkan untuk memperkenalkan materi genetik antardaerah, antarpulau, antarnegara pada rusa tanpa harus berhubungan dengan prosedur karantina hewan dan transportasi rusa. Teknologi tersebut dapat diterapkan baik untuk memasukkan materi genetik rusa langka dengan populasi kecil ke populasi yang lain untuk menambah variasi genetik guna mencegah inbreeding dan mencegah rusa langka dari kepunahan. Rusa Indonesia dengan badan besar seperti rusa Sambar dan rusa Timor mempunyai peluang yang baik untuk penerapan pengembangan industri peternakan rusa untuk kesejahteraan masyarakat dan membantu konservasi rusa sebelum termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah (endangered species).

 

--Dari berbagai sumber--